Ahli kedaya gunaan memberikan laporannya kepada Henry Ford. “Seperti yang kau lihat tuan, laporan ini sangat menggembirakan, kecuali orang di ujung ruangan itu. Setiap kali aku lewat, ia duduk dengan kaki diatas meja. Ia menyia-nyiakan uangmu.”

Jawab Ford : ”Ia pada suatu saat pernah mendapatkan ilham yang menghasilkan keuntungan besar bagi kami. Pada waktu itu, aku kira kakinya tepat pada tempatnya seperti sekarang ini.”

Nb: “Ada seorang pembelah kayu yang terus-menerus menyia-nyiakan waktu dan tenaga membelahi kayu dengan kapak tumpul, sebab ia tidak punya waktu untuk berhenti dan mengasah kapak itu.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 89% [?]

Ada seorang wanita yang beragama, saleh, penuh cinta akan Tuhan, setiap pagi ia rajin pergi ke gereja. Dan di jalan anak-anak terlantar tentu memanggil-manggil dia dan pengemis meminya-minta, tetapi begitu, ia tenggelam dalam baktinya, hingga ia sampai tidak melihat mereka.

Nah, pada suatu hari ia berjalan sepanjang jalan seperti biasanya dan sampai di gereja tepat pada waktu ibadat. Ia mendorong pintu, tetapi tidak dapat terbuka. Ia mendorongnya lagi lebih keras dan menemukan bahwa pintu nya ternyata terkunci.

Sedih ia berpikir, bahwa ia terpaksa melewatkan ibadat pertama kali sejak bertahun-tahun, tidak tahu harus berbuat apa, ia mendongak. Dan disitu, didepan mukanya, ia melihat pengumuman terpasang di pintu.

Bunyinya: “AKU sedang keluar.”
Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 92% [?]

Seorang wanita tua yang giat berkebun menyatakan bahwa ia sama sekali tidak percaya akan ramalan bahwa pada suatu ketika para ilmuwan akan mampu mengawasi cuaca. Menurut dia apa yang diperlukan untuk mengawasi cuaca adalah doa.

Lalu pada musim panas, ketika ia pergi ke luar negeri, kemarau kering melanda negara dan meniadakan seluruh kebunnya. Ia begitu marah ketika ia pulang, hingga ia berpindah agama.

Nb: “Ia seharusnya mengubah kepercayaannya yang bodoh.”
Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 88% [?]


Orang bijaksana dari India bernama Narada menaruh bakti kepada Tuhan. Demikian besar baktinya, hingga pada suatu hari ia tergoda untuk berpikir bahwa di seluruh dunia tidak ada orang yang mencintai Tuhan melebihi dia.

Tuhan membaca hatinya dan berkata: “Narada, pergilah ke kota di pinggir Bengawan Gangga, sebab seorang penyembahku diam disana. Hidup disampingnya akan baik bagimu.”

Narada pergi dan bertemu seorang petani, yang pada waktu pagi bangun menyebut nama Tuhan hanya satu kali, lalu mengangkat bajaknya dan pergi ke ladangnya, dimana ia bekerja sepanjang hari. Hanya sesaat sebelum tidur diwaktu malam ia mengucapkan nama Tuhan satu kali lagi. Narada berpikir: “Bagaimana si petani ini bisa berbakti kepada Tuhan? Kulihat dia sepanjang hari sibuk dengan urusan duniawi.”

Lalu Tuhan berkata kepada Narada: “Isilah mangkuk susu sampai penuh limpah dan berjalanlah keliling kota. Lalu datanglah kembali tanpa menumpahkan satu tetes pun juga.” Narada berbuat apa yang dikatakan Tuhan.

“Berapa kali engkau ingat akan Daku selama perjalanan keliling kota?” tanya Tuhan. “Tidak satu kali pun Tuhan” kata Narada. Bagaimana aku bisa bila Engkau menyuruh aku memperhatikan mangkuk berisi susu ini?

Tuhan berkata :”Mangkuk itu menguasai pikiranmu hingga engkau lupa Aku sama sekali. Tetapi lihatlah petani ini yang meskipun dibebani tugas menghidupi keluarga, ingat akan Daku dua kali sehari.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 96% [?]


Kebiasaan orang Katolik itu mengakukan dosanya kepada imam dan mendapatkan pelepasan darinya sebagai tanda pnegampunan Tuhan. Nah, kerapkali lalu tinbul bahaya, bahwa orang yang mengaku menganggap hal ini sebagai semacam jaminan, tanda bukti yang akan melindungi mereka dari pembalasan Allah, dan dengan demikian lebih percaya pada pelepasan oleh imam dari belaskasih Tuhan.

Perugini, seorang pelukis Italia dari Abad Pertengahan juga tergoda berbuat itu menjelang ajalnya. Ia memutuskan tidak mau mengaku, jika dalam ketakutan itu, ia hanya berusah menyelamatkan jasatnya. Itu akan merupakan sakrilegi dan hojatan kepada Tuhan.

Istrinya, yang tidak tahu apa-apa mengenai keadaan jiwa suaminya, bertanya kepadanya, apakah ia tidak takut mati tanpa pengakuan. Perugini menjawab: “Pandanglah itu demikian Bu: Keahlianku itu melukis dan aku menjadi ulung sebagai pelukis. Keahilian Tuhan itu mengemapuni dan jika ia sungguh ahli yang abik, seperti aku ahli lukis yang baik aku lalu tidak melihat alas an untuk takut.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 100% [?]

Suatu hari sudah petang seorang petani miskin pulang dari pasar, menyadari bahwa ia lupa membawa buku doanya. Roda gerobagnya terlepas tepat ditengah hutan, dan ia menyesal bahwa hari akan lewat tanpa bisa mengucapkan doanya.

Maka inilah doa yang dibuatnya: “Perbuatanku amat bodoh, ya Tuhan. Aku meninggalkan rumah pagi ini tanpa membawa buku doa. Dan ingatanku itu sedemikian rupa hingga doa satu pun tak dapat kukatakan tanpa buku. Maka inilah yang hendak kukatakan: Aku akan mengucapkan a-b-c … lima kali pelan-pelan dan engkau yang mengetahui semua doa, bias mengatur huruf=hurufnya untuk membentuk doa yang tak dapat kuingat.”

Dan Tuhan berkata kepada para malaikat-Nya: “Dari segala doa yang Aku dengar hari ini, satu ini niscaya yang paling baik, karena dating dari hati yang sederhana dan jujur.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 90% [?]

Seorang tukang tambal sepatu datang kepada rabbi Ishak dari Ger dan bertanya : “Katakan kepadaku, apa yang harus kulakukan dengan doa pagiku. Pelangganku itu orang-orang miskin yang hanya punya sepasang sepatu. Aku menerima sepatu mereka sudah terlampau petang dan mengerjakannya sepanjang malam. Waktu fajar pekerjaan masih ada, kalau-kalau pelanggan mau mendapat kembali sepatunya sebelum berangkat bekerja. Sekarang pertanyaanku : Bagaimana tentang doa pagiku ?”

“Apa yang kaulakukan sampai sekarang?” Tanya rabbi

“Sesekali aku cepat-cepat menyelesaikan doaku dan lalu kembali bekerja, tetapi kemudian aku merasa salah. Kali lain kulewatkan waktu doa. Tetapi aku juga merasa kehilangan sesuatu, dan kadang-kadang saja kalau aku mengangkat palu dari sepatu, aku hampir mendengar hatiku mendesah: “Orang celaka aku ini, bahwa aku tidak mampu melakukan doa pagiku.”

Kata sang rabbi: “Seandainya aku Tuhan, aku akan menghargai desahan itu lebih daripada doa.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 95% [?]

Alkisah, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang anak laki-laki (sebut saja si-Sulung dan si-Bungsu). Pada suatu hari, sang Ayah mendadak sakit keras dan diprediksi sudah mendekati ajalnya. Menyadari akan hal ini, sang Ayah pun segera memanggil kedua anak laki-lakinya si-Sulung dan si-Bungsu.

Sesudah mereka berdua bersimpuh didekat Ayah berbaring, sang Ayah pun menyatakan permintaannya kepada mereka : “Kalian berdua harus berjanji kepada Ayah……, bahwa setelah Ayah meninggal dunia nanti, kalian berdua harus menepati 2 pesan terakhir Ayah”. Sambil terisak tangis dan suasana hati yang tidak karuan, Sulung dan Bungsu pun hanya dapat manggut-manggut melihat kondisi Ayahnya yang semakin kritis.

Begini kira-kira kedua pesan Ayahnya itu:
“PERTAMA, kalian harus berjanji kepada Ayah, bahwa setelah Ayah meninggal nanti, kalian berdua TIDAK BOLEH MENAGIH PIUTANG kepada siapapun”. Tidak ada tindakan lain dari Sulung maupun Bungsu dalam menanggapi pesan PERTAMA Ayahnya itu selain mengatakan IYA KAMI BERJANJI dan menganggukkan kepala meski perasaan bingung menghinggapi kedua Anak tersebut.

“KEDUA, kalian berdua harus berjanji kepada Ayah, bahwa setelah Ayah meninggal nanti, kalian berdua TIDAK BOLEH TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG”. Semakin bingung-lah mereka terhadap permintaan Ayahnya. Tetapi sekali lagi keadaan lah yang memaksa mereka berdua untuk mengatakan IYA KAMI BERJANJI dan menganggukkan kepala.

Akhirnya, sesuai dengan rencana sang Ayah pun meninggal dunia dengan tenang karena telah menyatakan pesannya kepada kedua Anaknya. Prosesi pemakaman pun berlangsung dan kehidupan harus terus berjalan, karena baik Sulung maupun Bungsu memiliki Wirausaha yang harus dijalankan sebagai sandaran hidup.

Hari berganti hari, Minggu berganti minggu, Bulan dan Tahun. Tidak terasa 5 tahun telah berlalu sejak kematian sang Ayah. Disinilah mulai tampak perbedaan yang sangat mencolok antara Sulung dan Bungsu. Sang Ibu sebagai orang di “Tengah” pun tanggap akan hal ini. Perbedaan yang paling nyata adalah soal EKONOMI / KEUANGAN. Sang Ibu merasa iba kepada nasib si-Bungsu yang ekonominya sangat amburadul dan boleh dikatakan mulai Gulung Tikar. Sebaliknya, sang Ibu pun bangga kepada nasih si-Sulung yang boleh dibilang sangat sukses dalam bidang ekonomi.

Tergelitik rasa penasaran, iba dan bangga yang bercampur jadi satu, sang Ibu pun mengunjungi si-Bungsu untuk menanyakan perihal nasibnya: “Wahai Bungsu, mengapa nasib mu sedemikian malangnya anakku ???”. Si Bungsu pun menjawab: “Ini karena saya menuruti 2 pesan wasiat Ayah. PERTAMA, SAYA DILARANG MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN. Sedangkan teman, kolega, client, dll tidak berniat untuk mengembalikan hutang mereka jika tidak ditagih, sehingga lama-kelamaan habislah modal saya Ibu. KEDUA, Ayah melarang saya untuk KENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG, itulah sebabnya pergi dan pulang dari Toko, saya selalu menggunakan jasa Taxi, karena saya hanya memiliki sepeda motor, sehingga modal saya lama-kelamaan habis Ibu”. Melihat malangnya nasih Bungsu, sang Ibu pun menghibur dengan mengatakan : “ENGKAU MEMANG ANAK YANG BERBAKTI, KARENA ENGKAU MENJAGA JANJIMU KEPADA AYAH”.

Kemudian berkunjunglah sang Ibu ke kediaman Sulung. Kali ini suasana berubah 180O. Si Sulung adalah orang yang kaya raya dan sangat makmur ekonominya. Penasaran, sang Ibu pun menanyakan perihal nasibnya : “Wahai Sulung, mengapa nasibmu sedemikian beruntung anakku ???”. Si Sulung pun menjawab: “Ini karena saya menuruti 2 pesan wasiat Ayah”. Sang Ibu pun keheranan akan jawaban Sulung dan menanyakan dengan rasa penasaran yang tinggi, “kok bisa begitu ???”. Sulung pun menjawab : “PERTAMA, SAYA DILARANG MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN, oleh karena itu SAYA TIDAK PERNAH MEMBERIKAN HUTANG KEPADA SIAPAPUN, sehingga modal saya tetap. KEDUA, SAYA DILARANG KENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG, karena saya hanya memiliki sepeda motor, maka saya berangkat ke Toko pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, dan pulang dari Toko malam benar setelah matahari terbenam, sehingga SEMUA CUSTOMER SAYA TAHU BAHWA TOKO SAYA BUKA PALING PAGI & TUTUP PALING MALAM, sehingga Toko saya diserbu banyak pelanggan”. Sang Ibu pun keheranan penuh kekaguman akan jawaban dari si-Sulung.

Selama ini anda selalu memerankan karakter Sulung / Bungsu ???
Semoga bermanfaat untuk menghadapi persoalan hidup apapun. Anda hanya tinggal memilih …… Sulung ……….. atau ……………..Bungsu.

Sumber : Unknown

Popularity: 94% [?]

Banyak orang sangat menantikan kedatangan seorang guru yang suci. Ini akan menjadi peristiwa langka, maka mereka meluangkan waktu lama untuk mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka ajukan kepada orang suci itu. Ketika sang guru itu dating dan mereka menyambutnya dibalai kota, sang guru dapat merasakan suasana tegang karena semua orang siap untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang akan disampaikannya kepada mereka.

Ia tidak berkata apa-apa semula, hanya memandang mata mereka dan bersenandung lagu menarik. Segera saja semua orang ikut bersenandung. Ia mulai bernyanyi dan mereka bernyanyi bersama dia. Ia melambai dan menari dengan langkah megah dan gagah. Seluruh kelompok mengikuti geraknya, cepat saja mereka jadi terlibat dalam tarian, tenggelam dalam iramanya hingga mereka terlepas dari segala urusan lain didunia, maka setiap orang dalam kelompok itu menjadi utuh kembali, disembuhkan dari PERPECAHAN DALAM HATI, yang menahan mereka dari Kebenaran.

Hampir setengah jam lamanya, sebelum tarian perlahan berhenti. Dengan ketegangan yang terlepas dari dalam diri mereka, setiap orang duduk diam, damai meliputi ruangan. Kemudian sang guru mengatakan perkataan satu-satunya yang diucapkan malam itu: “Aku percaya aku telah menjawab semua pertanyaanmu.”

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 91% [?]

Ketika Bruder Bruno pada suatu malam sedang berdoa, ia diganggu oleh koak seekor katak raksasa. Semua usahanya untuk mengabaikan suara itu tidak berhasil, maka ia berteriak dari jendela: “Diam!!! Aku sedang berdoa”.

Bruder Bruno itu seorang Santo, maka perintahnya segera dipatuhi. Setiap makhluk hidup menahan suaranya untuk menciptakan suasana diam yang menguntungkan untuk doa. Tetapi kini suara lain mengganggu ibadat sang Bruder, yaitu suara dari dalam, yang berkata : “Mungkin Tuhan sama senangnya dengan koakan katak tadi daripada nyanyian mazmur-mazmur. Apa yang dapat berkenan pada Tuhan dari teriakan katak ?” Itu tanggapan Bruno yang menghina. Tetapi suara mendesak, tidak mau diam : “Mengapa kamu berpikir bahwa Tuhan menemukan suara?”

Kemudian, Bruno memutuskan untuk menemukan apa sebabnya. Ia mengeluarkan tubuhnya dari jendela dan memerintahkan sang katak untuk bernyanyi. Katak raksasa mengoak berirama memenuhi alam, diiringi oleh suara main-main katak –katak di sekitarnya. Dan ketika Bruno mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian, koakan katak tidak lagi mengganggu, karena ia menemukan bahwa kalau ia berhenti menolak suara-suara itu, nyatanya suara-suara itu memperkaya keheningan malam.

Dengan peristiwa tersebut, hati Bruno menjadi selaras dengan alam semesta. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mengerti apa artinya berDOA.

Sumber : The prayer of the frog – Anthony de Mello Sj

Popularity: 94% [?]

Next Page »